Psikologi keuangan adalah bidang yang mempelajari bagaimana pikiran, emosi, dan perilaku seseorang memengaruhi cara ia mengelola uang dan mengambil keputusan finansial.
Secara umum, konsep ini menjelaskan bahwa keputusan keuangan tidak selalu bersifat rasional karena kerap dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kebiasaan, pengalaman, dan kondisi emosional.
Anda mungkin mendengar istilah psikologi. Namun, pernahkah Anda mendengar tentang psikologi keuangan? Jangan khawatir, kami akan membantu Anda memahami psikologi keuangan secara lebih detail.
Artikel ini akan membahas pengertian psikologi keuangan dan mengapa konsep ini penting, serta cara membentuk pola pikir finansial yang lebih sehat.
Apa Itu Psikologi Keuangan dan Hubungannya dengan Keputusan Finansial?
Psikologi keuangan adalah konsep yang menjelaskan hubungan antara perilaku manusia, emosi, dan keputusan finansial. Dalam banyak kasus, keputusan terkait uang tidak selalu didasarkan pada logika, tapi juga dipengaruhi oleh kondisi mental, kebiasaan, serta pengalaman seseorang.
Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 65,43%, sementara inklusi keuangan sudah mencapai 75,02%.
Artinya, banyak masyarakat telah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelola keuangan dengan baik.
Faktor psikologis seperti rasa takut, keinginan, kebiasaan, hingga pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang mengelola uang. Pengaruh tersebut sering terlihat dalam berbagai perilaku finansial sehari-hari, seperti:
- Belanja impulsif yaitu membeli barang secara spontan karena tergoda promosi atau tren.
- Takut berinvestasi karena khawatir mengalami kerugian atau kehilangan uang.
- Sulit menabung meskipun sebenarnya memiliki penghasilan yang cukup.
Perilaku-perilaku tersebut menunjukkan bahwa cara seseorang berpikir dan merespons emosi dapat berperan besar dalam menentukan kondisi keuangannya. Pola pikir ini biasanya terbentuk dari pengalaman keluarga, lingkungan sosial, dan pendidikan keuangan.
Menurut CEO Plus Advisor, Priskilla Lusina, kebiasaan keuangan sering kali terbentuk dari pola pikir yang berkembang sejak lama.
“Cara kita memandang uang sangat memengaruhi keputusan finansial yang kita ambil. Jika pola pikirnya tidak sehat, kebiasaan finansial juga bisa ikut terbentuk secara kurang sehat,” ujarnya.
Selain tiga contoh di atas, masih ada beberapa kondisi lainnya yang patut Anda ketahui.
Bagaimana Contoh Perilaku yang Dipengaruhi Psikologi Keuangan?
Psikologi keuangan dapat terlihat dari berbagai kebiasaan dalam mengelola uang sehari-hari, seperti menabung, berbelanja, hingga berinvestasi. Berikut beberapa perilaku yang sering dipengaruhi oleh faktor emosional dan pola pikir seseorang.
1. Impulsive Buying
Belanja impulsif adalah kebiasaan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan. Keputusan ini biasanya dipicu oleh emosi, seperti rasa senang, stres, atau keinginan sesaat setelah melihat promosi dan diskon.

Karakteristik konsumen Indonesia saat berbelanja/Sumber: GoodStats
Akibatnya, seseorang sering membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali dan menyulitkan seseorang untuk menabung.
2. Takut Mengambil Risiko Finansial
Sebagian orang memiliki rasa takut yang besar terhadap kemungkinan kehilangan uang. Sebenarnya hal ini wajar, namun tidak baik jika berlebihan. Perasaan ini dapat membuat orang ragu atau bahkan menghindari investasi sama sekali.
Padahal, manajemen investasi yang dipahami dengan baik dapat menjadi salah satu cara untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang. Ketakutan yang berlebihan terhadap risiko sering kali membuat seseorang kehilangan peluang untuk meningkatkan kondisi finansialnya.
3. Menunda Perencanaan Keuangan
Tidak sedikit orang yang merasa perencanaan keuangan belum diperlukan selama kondisi finansial masih terasa aman. Ini adalah kesalahan yang cukup umum terjadi.
Faktanya, tanpa perencanaan yang jelas, seseorang bisa kesulitan menghadapi kebutuhan mendadak atau tujuan finansial di masa depan. Oleh karena itu, membuat rencana keuangan sejak dini dapat membantu mengatur pengeluaran dan mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.
4. Gaya Hidup Konsumtif
Pernahkah Anda membeli Tumblr mahal hanya karena sedang tren? Padahal, barang tersebut tidak terlalu Anda butuhkan. Ini adalah salah satu contoh gaya hidup konsumtif.
Gaya hidup konsumtif sering dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan tren yang berkembang di masyarakat. Seseorang mungkin merasa perlu membeli barang tertentu agar terlihat mengikuti gaya hidup orang di sekitarnya.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran menjadi lebih besar daripada kebutuhan sebenarnya. Efek jangka panjang gaya hidup ini dapat menghambat Anda mencapai tujuan keuangan yang lebih penting.
Berikut hal-hal penting yang perlu Anda tahu tentang gaya hidup konsumtif.

5. Terlalu Percaya Diri dalam Mengelola Keuangan
Memiliki rasa percaya diri tentu hal yang sangat positif. Namun, rasa percaya diri berlebihan justru bisa berbahaya. Pasalnya, hal ini kadang membuat seseorang mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang.
Contohnya, berinvestasi tanpa memahami risikonya atau mengabaikan pentingnya perencanaan keuangan. Sikap ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam mengelola uang.
Bagaimana Cara Membentuk Pola Pikir Keuangan yang Lebih Sehat?
Untuk membentuk pola pikir keuangan yang lebih sehat, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, seperti meningkatkan literasi keuangan, membuat tujuan finansial yang jelas, hingga mengembangkan kebiasaan menabung dan berinvestasi.
Meningkatkan Literasi Keuangan
Memahami dasar-dasar pengelolaan keuangan dapat dilakukan melalui banyak cara. Anda bisa melihat YouTube, mengikuti webinar, membaca buku, maupun berkonsultasi dengan perencana keuangan.
Literasi keuangan membantu seseorang memahami cara mengatur pengeluaran, pentingnya menabung, serta berbagai pilihan investasi yang tersedia. Pengetahuan yang cukup membantu Anda membuat keputusan finansial yang lebih rasional.
Membuat Tujuan Finansial yang Jelas
Tujuan finansial membantu seseorang memiliki arah dalam mengelola uang. Misalnya, menyiapkan dana darurat, membeli rumah, atau mempersiapkan dana pensiun.
Tujuan finansial yang jelas membuat Anda lebih termotivasi untuk mengatur pengeluaran dan menyisihkan sebagian penghasilan secara konsisten. Dalam jangka panjang, hal ini akan menjadi kebiasaan yang baik.
Mengendalikan Emosi Saat Mengambil Keputusan Keuangan
Mungkin Anda pernah membeli barang demi mengikuti tren. Ini adalah contoh keputusan finansial yang didasari emosi. Faktanya, keputusan finansial sering kali dipengaruhi oleh emosi, seperti rasa takut, keinginan sesaat, atau tekanan dari lingkungan sosial.
Penting untuk belajar mengendalikan emosi sebelum membuat keputusan terkait uang. Mempertimbangkan kebutuhan dan manfaat jangka panjang dapat membantu menghindari keputusan yang bersifat impulsif.
Membiasakan Finansial Roadmap
Financial roadmap membantu Anda memahami ke mana saja uang digunakan pada periode tertentu. Umumnya, praktik ini menghubungkan kondisi Anda saat ini dengan tujuan jangka menengah dan panjang.
Pengeluaran menjadi lebih terkontrol dan prioritas keuangan menjadi lebih jelas. Kebiasaan ini juga membantu memastikan bahwa kebutuhan penting tetap terpenuhi sebelum mengalokasikan dana untuk keperluan lain.
Mengembangkan Kebiasaan Menabung dan Berinvestasi
Menabung dan berinvestasi merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan jangka panjang. Menabung membantu mempersiapkan dana darurat dan kebutuhan masa depan, sementara investasi dapat membantu mengembangkan nilai aset dari waktu ke waktu.
Jika perlu, ajarkan juga kebiasaan menabung dan mengelola uang secara bijak kepada anak-anak sejak dini. Bangun komunikasi keuangan keluarga yang baik untuk menghindari konflik finansial internal.
Mengapa Memahami Psikologi Keuangan Penting?
Memahami psikologi keuangan membantu Anda melihat lebih dalam bagaimana pola pikir dan emosi memengaruhi cara mengelola uang. Memahami hal ini juga membuat Anda lebih sadar terhadap kebiasaan finansial yang Anda miliki.
Secara singkat, beberapa manfaat utama memahami psikologi keuangan antara lain:
- Membantu memahami alasan di balik kebiasaan finansial, seperti kebiasaan belanja, menabung, atau mengambil keputusan investasi.
- Mempermudah membuat keputusan keuangan yang lebih rasional, karena seseorang dapat mempertimbangkan kebutuhan dan tujuan finansial secara lebih matang.
- Membantu membangun kebiasaan finansial jangka panjang yang lebih sehat, seperti disiplin menabung dan mengatur pengeluaran.
Psikologi keuangan menunjukkan bahwa kondisi finansial seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya pendapatan. Faktor lain, seperti pola pikir, kebiasaan, dan cara seseorang memandang uang, juga memiliki peran penting dalam menentukan kondisi keuangan jangka panjang.
Mini FAQs Tentang Psikologi Keuangan
1. Apa yang dimaksud dengan psikologi keuangan?
Psikologi keuangan adalah konsep yang mempelajari bagaimana pikiran, emosi, dan perilaku seseorang memengaruhi cara mengelola uang dan mengambil keputusan finansial. Keputusan terkait uang tidak selalu bersifat rasional karena sering dipengaruhi oleh kebiasaan, pengalaman, serta kondisi emosional seseorang.
2. Mengapa psikologi keuangan penting dalam mengelola uang?
Psikologi keuangan membantu seseorang memahami kebiasaan finansial yang dimilikinya. Individu dapat lebih mudah membuat keputusan yang lebih rasional serta merencanakan keuangan dengan lebih baik.
3. Apa saja contoh perilaku yang dipengaruhi psikologi keuangan?
Beberapa perilaku yang dipengaruhi psikologi keuangan antara lain belanja impulsif, takut berinvestasi, sulit menabung, gaya hidup konsumtif, serta menunda perencanaan keuangan.
4. Bagaimana cara memperbaiki pola pikir tentang keuangan?
Pola pikir tentang keuangan dapat diperbaiki dengan meningkatkan literasi keuangan, membuat tujuan finansial yang jelas, dan belajar mengendalikan emosi. Hal-hal ini membiasakan diri membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
5. Apakah psikologi keuangan dapat memengaruhi kondisi finansial seseorang?
Ya, psikologi keuangan dapat memengaruhi kondisi finansial seseorang dalam jangka panjang. Cara seseorang berpikir dan bersikap terhadap uang akan memengaruhi kebiasaan finansialnya, seperti cara mengatur pengeluaran, menabung, maupun mengambil keputusan investasi. Pola pikir yang lebih terencana biasanya membantu seseorang mengelola keuangan dengan lebih stabil.
